Untuk Ibu

by - Oktober 17, 2018


Hari ini, sepuluh tahun lalu aku kehilangan sosok terpenting dalam hidupku. Ya, aku kehilangan ibu. Saat itu umurku baru 10 tahun dan baru naik kelas 6 SD. Sebelum meninggal, ibu memamng sudak lama sakit-sakitan dan lebih parah ketika  aku lahir. Bahkan menurut cerita, saat aku lahir tubuhku berwarna kuning, katanya sih karena ibu sering mengkonsumsi obat. Kalau ditanya, seberapa dekat aku sama ibu? Jujur nggak sedekat anak-anak ibu yang lain. Kenapa? Karena dulu waktu kecil aku lebih sering dititipkan tetangga :D. Waktu itu bapak dan ibu sama-sama bekerja. Banyak waktu yang terlewatkan, saat anak-anak lain pergi piknik ditemani ibunya, aku justru ditemani pengasuh. Tapi ibu selalu berusaha supaya anak bungsunya nggak kurang kasih sayang. Setiap hari kami selalu tidur berdua, kadang bertiga sama bapak. Sebelum tidur aku punya ritual yaitu cubit-cubit gemes tangan ibu, hehe. Ibu juga suka ngelus-ngelus kepala sampai aku tidur. Sekarang sudah nggak ada lagi yang dicubit sama ngelus kepala, wkwk.
 Dulu setiap pagi sebelum berangkat sekolah ibu juga pasti nguncir rambutku, teman SDku pasti tahu dulu rambutku paling heboh kuncirannya haha. Aku juga ingat setiap pagi dan sore ibu selalu buat teh, kalau pas ada bahan buat cemilan ibu juga pasti bikin entah tempe goreng, singkong atau yang lainnya. Sepertinya kebiasaan ibu ini juga ditiru semua anak-anaknya 😂.Setiap hari minggu ibu pasti masak sayur sop, sambal tomat, tempe goreng. Kenapa hanya hari minggu? Karena sayur sop adalah sayur kesukaan kami di rumah dan hari minggu semua berkumpul.
 Nggak terasa 10 tahun sudah berlalu ya bu. Kami kangeeeen. Kangen suara lantangmu saat memarahi kami, kangen masakanmu, kangen teh buatanmu, kangen semua tentangmu. Semua sudah banyak berubah. Anak bungsumu sudah jadi mahasiswa tingkat akhir. Cucu ibu juga sudah bertambah, nggak hanya Fina dan Aufa. Sekarang sudah ada Rara, adiknya Aufa. Mbak Arin juga sudah punya 2 jagoan Amay dan Aga. Mas Pepi sudah punya satu jagoan bu, Sakha namanya. Rumah kita jadi makin ramai sama suara-suara teriakan mereka, bu. Hanya satu yang nggak berubah, yaitu cinta bapak ke ibu. Bapak masih setia menjaga cintanya, menikmati masa tua bersama anak dan cucu yang lucu-lucu. Kami tahu, ibu pasti bahagia melihat kami bahagia.

Foto tanpa ibu


Di tahun ke sepuluh ini sepertinya hanya maaf yang bisa terucap. Maaf belum bisa membahagiakan, maaf belum bisa membuat bangga. Sekarang yang bisa kulakukan hanya berdoa untukmu. Semoga Allah ampuni segala dosa dan Allah balas semua amal kebaikanmu dengan surga. 
Allahummaghfirlaha, warkhamha wa’afihi wa’fuanha..

Bersyukurlah kalian yang masih diberikan kesempatan untuk bisa bersama-sama orangtua. Jangan sia-siakan kesempatan. Bahagiakan mereka selagi ada, buat mereka bangga. Jangan sampai menyesal.

You May Also Like

5 komentar